Senin, 04 Februari 2019

Mengenal 6 Tarian Tradisional Muna


Tari daerah atau tarian tradisional suku muna ada beberapa macam. dikalangan masyarakat suku muna dikenal beberapa tari tradisional diantaranya sebagai berikut :

1. Tari Linda


Tari Linda Adalah tarian tradisional yang berasal dari kabupaten muna, tarian yang diiringi dengan alat musik mbololo, serta dipadukan dengan nyanyian tradisional. tari linda biasanya dimainkan oleh beberapa orang  dalam setiap penampilan. biasanya suku muna mengadakan tari linda pada acara acara daerah atau acara perlomban budaya muna.


Tarian ini di ciptakan sebagai suatu perwujudan tradisi masyarakat di daerah muna dalam hal pemingitan anak-anak mereka di kala memasuki alam ke dewasaan. Pertumbuhan tarian tersebut kemudian meluas sampai kedaearah buton,sehingga sekarang ini telah menjadi tarian tradisional yang sangat popular di kea daerah tersebut. Pelakunya terdiri dari wanita yang jumlahnya terbatas sampai enam atau delapan orang saja.pakaian mereka terdiri dari baju kombo yang bahannya terdiri dari kain polos.leher dan pinggir bawah betis dengan warnah merah.seluruh pakain ini di hiasi dengan manik-manik yang tebuat dari perunggu.sarungnya di buat empat lapis.dimana lapisan yang paling dalam berwarna merah,kemudian menyusul warna hijau,putih,dan paling luar berwarna hitam. Kepala mereka dihiasi dengan beberapa hiasan seperti tiga buah panto(gelang kepala)di pasang pada bagian atas dari pada konde penari yang telah di lingkar dengan bandol konde dari kain berwarna merah yang di hiasi pula dengan picing dan manik-manik pada bagian belakang kepala di pasang kabunsale yang berwarna merah.mereka juga memakai kalung leher dan beberapa gelang di kedua tangan mereka.

Pakaian ini khusus di gunakan pada saat seorang gadis keluar dari pingitan (kagombo) untuk melaksanakan tari Linda. cara memakainya yaitu penari-penari keluar dari dua penjuru dengan gaya lego (berlengang)setelah menghadapi penonton,mulailah gerakan pertama.kedua tangan mengambil selendang yang melilit di leher dan di bawa ke sebelah kiri,laksana orang yang sedang memetik sesuatu bersamaan dengan gerak kaki yang di gesekan ke kiri sambil mengayunkan kaki kanan ke arah kanan dengan perhitungan tiga dan di balas dengan kaki kiri dengan perhitungan empat.selanjutnya kedua tangan di bawa ke sebelah kanan seperti orang yang sedang memetik sesuatu secara bersamaan dengan gerak kaki kiri ke samping kiri dengan perhitungan satu di balas dengan kaki kanan pada perhitungan tiga dan di balas lagi dengan kaki kanan dalam perhitungan empat.



Beberapa fariasi terjadi pada saat pertukaran tempat,mempermainkan selendang dan sebagainya.keseluruhan gerakan dalam tari ini terdiri dari empat belas macam gerakan.pada gerakan penutup,kedua tangan di bawa ke sebelah kiri,seperti orang yang sedang memetik buah.kaki kiri di gerakan ke kiri,kaki kanan di ayunkan ke kanan,dengan perhitungan satu di balas dengan kiri pada perhitungan dua,kemudian di ganti dengan kaki kanan dalam hitungan tiga dan seterusnya sampai mencapai perhitungan empat. Akhirnya kedua tangan melepaskan lilitan selendang dan di sandang ke bahu sebelah kanan.tangan kiri memengang sarung (bini-bini) tangan kanan berlengang ( lego-lego ) pengiring dari tarian ini adalah alat musik gendang,gong,dan dengu-dengu.dengan cara di tabu di pukul.

Dahulunya sebelum alat-alat musik tersebut di kenal oleh masyarakat,orang-orang sering menggunakan mata tou,dengan nama musik mata tou. Tarian Linda berfungsi sebagai tarian adat dari daerah kabupaten muna yang selalu di laksanakan dalam upacara karia,oleh gadis-gadis remaja yang di upacarakan.pemain tari Linda berjumlah 6 orang putri,sedang di lagukan laggu kadandio

2. Tari Katumbu


Tari Katumbu adalah tari tradisonal masyarakat kabupaten muna biasanya tari ini mengambarkan musim panan tiba yang biasa diadakan oleh masyarakat yang bertani untuk mensyukur hasil panen mereka.

3. Tari Dolego


Tari Dolego dalam bahasa Muna Berarti Berlenggang, tari ini merupakan tari perpaduan kreasi dari tari tradisional Posampuniki yang bernafaskan Islam, tari ini merupakan tari hiburan pergaulan disaat musim panen singkong ketika membuat Tunuha. Tunuha jenis kue tradisonal Muna dari singkong yang di bakar di lubang dalam satu malam, dengan memanfaatkan suasana terang mereka lalu memainkan tari posampuniki.

4. Tari Fari


Tari Fari Merupakan Istilah fari berarti Bidadari, tari fari digarap berdasarkan cerita lama tentang Raja Muna ke XV La Ode Husain yang digelar Omputo Sangia yang terjadi sekitar abad ke XVIII, tari ini menggambarkan 7 orang bidadari dari kayangan yang mandi di mata air Fotuno Rete di Wakumoro, Kec, Kabawo. Saat mereka mandi dengan gembiranya, maka Omputo Sangia melintas dengan mengendarai kuda untuk berburu, mendengar suara tawa nan merdu dari para bidadari tersebut tanpa sepengetahuan mereka Omputo Sangia mengambil sayap para bidadari tersebut lalu ia pergi. Menurut kisah orang tua, ketika beliau bertapa, 7 orang bidadari itu datang menggoda beliau lalu ditangkaplah salah seorang dari 7 bidadari itu.

5. Tari Ghibi


Tari Ggibi adalah tari Tradisional Muna, Ngibi adalah gerakan-gerakan indah dan berirama refleks yang dimainkan oleh 2 orang insan yang berlawanan baik tua maupun muda sambil mengikuti alunan ketabuhan yang disebut rambi Wuna, gerakan tari ini memperlihatkan kelincahan seorang wanita menghindar dari sentuhan seorang pria secara lembut, penuh waspada namun sangat sopan, hanya menggunakan instrument musik dan tanpa lagu

6. Tari Potobo


Tari Potobo Merupakan sebuah tari kreasi baru yang diangkat dari tradisi masyarakat sebagai suatu kebiasaan dan keharusan pada zaman dahulu untuk membela diri. Patobo dalam bahasa muna yang artinya berkelahi dengan menggunakan senjata khas yang bernama tolobi atau Keris. Pada zaman dahulu kebiasaan dan keahlian bermain kris ini sangat perlu bukan hanya untuk pria tapi juga untuk wanita bahkan sejak usia mereka masih dini mereka telah di anjurkan untuk mempelajarinya, untuk sebuah keselamatan, biasanya keahlian ini di pertunjukan buat hiburan dan penyambutan tamu.

add you comment
EmoticonEmoticon